Selasa, 27 Maret 2012

Karya Tulis


BAB I
PENDAHULUAN
            Penulis menjelaskan tentang latar belakang masalah, penjelasan judul, alasan pemilihan judul, tujuan penelitian, hipotesa, batasan masalah, metode penulisan, serta sistematika penulisan.
A. Latar Belakang Masalah
            Bangsa Indonesia sedang dilanda berbagai krisis.salah satunya yang terberat adalah krisis keteladanan dari para pemimpin. keteladanan adalah satu kata yang mudah diucapkan dan dapat dipahami, namun harus disadari bahwa ternyata keteladanan itu sukar untuk dilakukan. Saat ini ditengah-tengah gereja juga dilanda dengan krisis  keteladanan  kepemimpinan.pemimpin-pemimpin gereja begitu mudah memberi nasehat,ceramah kepada umat tetapi seringkali tidak  dapat diteladani.
            Dunia sangat membutuhkan keteladanan, dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau sungguh-sungguh dalam pengajaran mu. (Tit. 2 : 7). Diharapkan para pekerja Tuhan dapat menjadi teladan dihadapan anggota jemaat, anggota jemaat dimampukan untuk meniru mereka di dalam berbangai hal, khususnya dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, kesuciaan.
            Berdasarkan kenyataan diatas, dalam karya tulis ini penulis akan membahas dampak konsep pengajaran Paulus  di dalam hidup Timotius tentang keteladanan, bahkan melihat apa dampak keteladanan dalam pelayanan, dalam keluarga,dalam pemuda remaja. sebagai orang Kristen yang percaya  bahwa Alkitab adalah dasar iman dan sumber pengetahuan yang luar biasa, maka penulis menyusun karya tulis ini dengan judul”Konsep Pengajaran Paulus Tentang Keteladanan Dalam I Timotius 4: 12 “.
B. Penjelasan Judul
            Penulis memberikan gambaran yang jelas mengenai karya tulis ini, sehingga tidak terjadi penafsiran yang keliru. Maka penulis memberikan pengertian dari istilah-istilah yang digunakan dalam judul karya tulis ini yaitu”Konsep Pengajaran Paulus Tentang Keteladanan Dalam I Timotius 4: 12”.
1.    Konsep Pengajaran Paulus
            Konsep adalah “ide, pengertian, gagasan”.[1] Pengajaran adalah ”proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan”.[2] Sedangkan Paulus yaitu ”Rasul dalam perjanjian baru”.[3]
            Konsep pengajaran adalah gagasan proses mengajar rasul dalam perjanjian baru.




 2. Tentang keteladanan
            Tentang adalah “hal, perihal”.[4] Keteladanan adalah ”hal yang dapat ditiru atau dicontoh”.[5]
            Tentang keteladanan diartikan hal yang dapat ditiru atau dicontoh, hal yang dapat ditiru oleh orang lain dari diri seseorang.
3. Dalam I Timotius 4: 12           
I Timotius 4: 12 : “Salah satu surat  penggembalaan yang di tulis oleh    Paulus dalam Alkitab.
C.Alasan pemilihan Judul
            Adapun yang menjadi alasan penulis adalah;
            Pertama, untuk mengetahui dan memahami konsep pengajaran Paulus tentang keteladanan.
            Kedua, memberikan penjelasan mengenai keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, agar bukan hanya sekedar teori,bukan hanya sekedar pengajaran theologia, melainkan nyata dalam kehidupan pribadi demi pribadi.
            Ketiga, untuk melihat ada tidaknya dampak pengajaran Paulus tentang keteladanan bagi gereja masa kini.



D.Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah:
Pertama, mengetahui konsep pengajaran keteladanan Paulus dalam realitas kehidupan sehari-hari menurut I Timotius 4 : 12.
Kedua, memberikan penjelasan bangaimana prinsip keteladanan Paulus.
Ketiga, melihat ada tidaknya dampak pengajaran Paulus tentang keteladanan bagi masa kini.
Keempat, tujuan individu  yaitu untuk melengkapi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Muda Theologia.
E.Rumusan Masalah
Yang menjadi rumusan masalah dalam karya tulis ini adalah:
Pertama, bangaimana konsep keteladanan Paulus dalam I Timotius 4:12?
Kedua, bangaimana prinsip keteladanan Paulus dalam I Timotius 4:12?
Ketiga, apakah ada dampak keteladanan Paulus dalam kitab I Timotius 4:12 bagi masa kini?
F.Hipotesa
            Menurut A.M. Sumarno hipotesa adalah “kesimpulan sementara yang diambil sehubungan dengan masalah yang diselidiki”.[6]
            Adapun hipotesa yang penulis ajukan dalam karya tulis ini adalah “ adanya dampak konsep pengajaran Paulus tentang keteladanan  dalam I Timotius 4:12”.
G.Batasan Masalah
             Batasan masalah dalam karya tulis ini penulis membahas konsep keteladanan menurut I Timotius 4 : 12.
H.Metode  penulisan
            1.Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam karya tulis ini adalah
Pertama,  metode deskripsi induktif, yaitu menjelaskan  dan mengemukakan hasil pengamatan dari literatur biblika.
Kedua, Penulis menggunakan data-data peninggalan tertulis yang terdapat dalam injil tulisan I Timotius serta beberapa pendukung lainnya.
Ketiga, Metode Deskripsi Metode ini digunakan untuk berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada masa sekarang obyektif dalam suatu deskripsi situasi.
Keempat, metode ini digunakan untuk data-data dari buku refrensi yang digunakan guna menarik suatu pernyataan atau kesimpulan yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi.
2.Metode Pengumpulan Data
Penulis menggunakan metode komperatif dalam pengumpulan data ini yaitu membandingkan buku yang satu dengan yang lain untuk mencari kebenaran
3.Metode Pengolahan Data
Penulis mengolah data –data dengan metode-metode sebangai berikut:

3.1 Metode komperatif
Metode ini digunakan untuk membandingkan data-data dari refrensi buku yang digunakan untuk mendapatkan perbedaan atau persamaan yang berhubungan dengan pembahasan.
            3.2 Metode Analisa Teks
Penulis menggunakan Metode menganalisa data-data yang ada secara detail untuk mengetahui maksud dari apa yang ditulis.
4.Metode Menarik Kesimpulan
Penulis menggunakan metode induktif, untuk menarik kesimpulan yaitu data-data sabagai premis, dibentangkan secara luas untuk disimpulkan.
I.Sistematika Penulisan
            Karya tulis ini dibagi menjadi empat bab yang secara garis besar isinya adalah sebagai berikut:
            Bab pertama, pendahuluan yang berisi tentang latar belakang,penjelasan judul, alasan pemilihan judul, tujuan penelitian, hipotesa, batasan masalah, metode penelitian, sistematika penulisan.
            Bab kedua, Deskripsi  kitab I Timotius, penulis, latar belakang, alamat surat, waktu penulisan, tujuan penulisan, dan garis besar kitab Timotius.
            Bab ketiga, Konsep pengajaran paulus tentang keteladanan menurut I Timotius 4 : 12 yang berisi deskripsi tentang keteladanan, konsep keteladanan,prinsip keteladanan, dampak keteladanan.
            Bab keempat, Penutup yang berisi kesimpulan dan beberapa saran yang diharapkan dapat berguna bagi para pembaca, serta daftar pustaka.           











































BAB II

DESKRIPSI KITAB I TIMOTIUS
A.Penulis Kitab I Timotius
Kitab I Timotius merupakan salah satu surat dari Paulus, yang sering juga
Disebut surat penggembalaan. Surat penggembalaa ini adalah surat kepada Timotius (di Efesus) dan surat kepada Titus(di kreta) mengenai pelayanan pastoral di gereja. Kitab Timotius ini memuat azas yang benar dan petunjuk-petunjuk untuk mengatur jemaat dan cara mengatasi ajaran guru-guru palsu. Kitab Timotius ini juga merupakan surat yang dapat menguatkan dan memotivasi.
1.Penulis
            Gaya bahasa dan kosakata yang berbeda antara surat kiriman Paulus yang lain dan surat kepada Timotius, membuat orang mempersoalkan tentang penulisan surat kepada Timotius. Namun hal itu tidak menjadi masalah yang serius karena gereja mula-mula menempatkannya sebagai surat paulus yang asli dan surat  kepada Timotius merupakan ungkapan dari perhatian pribadi  Paulus kepada Timotius pada usia lanjut.
            I Timotius 1:1 dikatakan “Dari Paulus” jelaslah bahwa yang menulis kitab Timotius adalah Paulus. Untuk menjawab keraguan akan penulisnya Paulus, maka dengan adanya perbedaan gaya bahasa maka kita mendapat alasan yang tepat. Menurut Ensiklopedia alkitab jilid 2 halaman 479, “surat-surat ini dialamatkan kepada rekan-rekan sekerjanya yang paling akrab, karena itu merupakan surat –menyurat Paulus yang berbeda dari suratnya kepada jemaat-jemaat yang lainnya”.[7]
            Nama asli Paulus adalah Saulus (nama yang diambil dari bahasa ibrani), tetapi setelah bertobat nama diganti menjadi paulus (dalam bahasa yunani).Saulus berasal dari suku Yahudi dan ia sangat bangga dengan keyahudiaannya, ia berasal dari suku Benyamin dan juga memiliki kewarganegaraan Roma.Ia lahir di Tarsus dan ia mendapat banyak pelajaran dari kota Tarsus tentang cara hidup bangsa yang bukan Yahudi.oleh karena itu, waktunya tiba ia dapat memperkenalkan injil dengan cara yang sangat baik.
            Ciri-Ciri Khas Surat ini Adalah:
Pertama , Surat ini yang dialamatkan langsung kepada Timotius sebagai wakil Paulus di jemaat Efesus, sangat pribadi dan ditulis dengan perasaan yang mendalam.
Kedua, Surat ini menekankan tanggung jawab pendeta untuk memelihara injil agar tetap murni dan bebas dari ajaran palsu yang melemahkan.
Ketiga, surat ini menekankan nilai unggul dari injil, pengaruh setan dibelakang semua pencemaran, panggilan Gereja yang kudus dan syarat tinggi yang ditetapkan Allah bagi para pemimpin.
Keempat: Surat ini memberikan pedoman yang paling lengkap dalam PB mengenai bangaimana seorang gembala membangun hubungan dengan orang yang ada disekitarnya.
Dari keterangan-keterangan diatas sudah jelas bahwa penulisnya tidak diragukan lagi adalah Paulus.
2.Latar Belakang Penulisan
            Paulus menulis surat I Timotius ini sesudah peristiwa-peristiwa  yang tercantum dalam akhir Kisah Para Rasul.hukuman penjara yang pertama kali dialami oleh Paulus di Roma (Kis 28) rupanya berakhir dengan kebebasan (2Tim 4:16-17).Setelah itu, menurut keterangan Klemens dari Roma (sekitar tahun 96 M) dan kanon Muratorial (sekitar tahun 170 M), Paulus meninggalkan Roma menuju ke arah barat ke Spanyol dan di sana melaksanakan pelayanan yang sudah lama dicita-citakannya.Berdasarkan data-data dalam surat-surat penggembalaan ini, maka Paulus kemudian kembali ke daerah Laut Aegea untuk pelayanan selanjutnya.Sementara waktu ini (sekitar tahun 64-65 M), Paulus menugaskan Timotius sebagai wakil Rasuli untuk melayani di Efesus, dan Titus di Kreta.Dari Makedonia Paulus menulis surat yang pertama kepada Timotius.Setelah itu, Paulusdi tawan kembali di Roma.  Paulus menulis surat ini karena dia tidak tinggal lama di Efesus dan dia meninggalkan rekannya Timotius untuk melayani jemaat di Esesus[8].

2.1 Alamat surat
            Surat timotius dapat dipastikan adalah surat Paulus yang ditujukan kepada Timotius, sesuai dengan yang tertulis dalam I Timotius 1:2. yang sah secara iman bagi paulus.(1 tim 1:2).
            Timotius percaya kepada Tuhan atau menjadi anak yang sah dari Paulus setelah dia bertemu dengan Paulus dalam pekabaran injil di Listra makedonia.
            “Adina Chaman mengatakan Timotius jadi teman Paulus dalam pelayanan Paulus. Paulus meninggalkan Timotius di Efesus untuk melayani jemaat disana,Timotius telah menjadi pemimpin, dia dipilih Allah, para penatua bahkan oleh Paulus....".
            Surat I Timotius ditujukan kepada Timotius yang mengemban tugas pelayanan, sebagai anak yang sah secara iman dan sebagai rekan sekerja Paulus di Efesus.
2.1.1 Waktu dan Tempat Penulisan
            Paulus menulis surat yang pertama kepada Timotius dari Makedonia, dan beberapa waktu kemudian ia menulis surat kepada Titus. Setelah itu, Paulus kembali ditawan di Roma, ketika dia menulis surat yang kedua kepada Timotius. Tidak lama sebelum ia mati syahid pada tahun 67-68 M.
            Adina Chapman berpendapat surat ini ditulis “waktu Paulus dalam perjalanan pekabaran injilnya yang pertama”[9].
            Menurut J.wesley “ditulis pada tahun 65 M atau 66 M”[10].
            “Penulisan kitab I Timotius ini ditulis oleh Paulus pada waktu ia berada di Makedonia dan Timotius di Efesus pada tahun 64-65 M”[11].
            Jadi dapat diambil kesimpulan surat kepada Timotius ditulis sekitar tahun 64-66 M di Makedonia.
2.1.2 Tujuan Penulisan kitab I Timotius
            Paulus mendelegasikan tugas pelayanan kepada seorang Hamba Tuhan yang masih muda, dimana pada saat itu situasi pelayanannya ada ajaran sesat yang muncul, dan yang sangat membahayakan. Sehingga Paulus menulis surat dengan 3 maksud memberikan dorongan, semangat,dalam melayani Tuhan.
            Menurut diktat Agus Suryanto surat penggembalaan Paulus memiliki 3 maksud yaitu:
1.      Menasehati Timotius mengenai kehidupan pribadi dan pelayanannya.
2.      Mendorong Timotius untuk mempertahankan kemurnian injil dan standarnya yang kudus dari pencemaran guru-guru palsu.
3.      Memberikan pengarahan kepada timotius mengenai berbagai urusan Gereja dan persoalan gereja di Efesus.[12]
Survei:
Salah satu hal yang disampaikan paulus kepada pembantu
Mudanya ialah supaya Timotius tetap berjuang untuk mempetahankan iman yang sejati dan membuktikan kesalahan ajaran palsu yang melemahkan kuasa injil yang menyelamatkan(1Tim3:1-7). Paulus juga menginstuksikan Timotius mengenai syarat-syarat kerohanian dan sifat bagi para pemimpin gereja dan memberikan gambaran secara tersusun dari macam orang yang diijinkan menjadi pemimpin gereja.
 Paulus mengajarkan Timotius bangaimana cara bergaul dengan berbagai kelompok dalam jemaat.Seperti perempuan (ITim2:9-15), janda-janda (ITim5:3-16), laki-laki tua dan muda (ITim5:1), para penatua (ITim5:17-25), budak (ITim6:1-2), guru palsu (ITim 6:3-10), dan orang kaya (ITim 6:17-19). Paulus memberikan lima instruksi jelas kepada Timotius yang harus dilakukannya. Di dalam surat ini Paulus menyatakan kasih sayangnya kepada timotius sebangai anak rohaninya dalam iman dan mengajukan suatu standar kesalehan yang tinggi untuk kehidupan dan gereja.[13]

Ciri-Ciri Khas:
Empat ciri utama yang menandai surat ini adalah :
Pertama, surat ini dialamatkan langsung kepada Timotius sebangai wakil Paulus di jemaat Efesus, sangat pribadi dan ditulis dengan emosi dan perasaan mendalam.
Kedua, Surat Timotius lebih menekankan tanggung jawab pendeta untuk memelihara injil agar tetap murni dan bebas dari ajaran palsu yang melemahkan kuasanya untuk menyelamatkan.
Ketiga, Surat ini menekankan nilai unggul dari injil, penggaruh setan dari semua pencemaran, panggilan gereja yang kudus dan syarat tinggi ditetapkan Allah bagi para pemimpin.
Keempat, Surat ini memberikan pedoman yang paling lengkap dalam PB mengenai bangaimana seorang gembala harus berhubungan secara patut dengan pria dan wanita serta dengan semua kelompok usia sosial dalam gereja.

3.Garis Besar Kitab I Timotius
            Tema utama dari kitab I Timotius adalah nasihat kepada seorang Gembala muda mengenai tingkah laku pribadi dan pekerjaan pelayanan.
Ayat kunci: I tim 3:15.
            Ikhtisar:
Bagian I. Terutama berisi nasihat tentang doktrin dan pengajaran, pengalaman pribadi.
Pasal I
1.Salam
I Ti 1:1,2
2.Nasihat dalam hal berurusan dengan guru-guru yang menganut paham legalisme (mementingkan pelaksanaan hukum secara lahiriah) yaitu:
Pertama, Yang lebih menekankan hal-hal yang tidak perlu dari pada kesalehan; yang bukannya membangun karakter/watak namun menyebabkan pertengkaran (I Tit3-6).
            Kedua,  Yang berhasrat menjadi guru yang mengajarkan hukum taurat tanpa mengetahui makna dari hukum tersebut.
3.Pengalaman Paulus
            Pertama, panggilannya pada pelayanan sementara ia masih giat menentang injil (I Tit 1:12,13).
Kedua, pernyataanya akan kasih karunia Illahi dan pengakuannya akan ketidak layakannya (I Tit 1:14,15).
Ketiga, tujuan Kristus dalam memakainya sebagai contoh dalam menahan penderitaan panjang(I Tit 1:16).
4.Perintah yang serius yang mula-mula diberikan kepada Timotius (I it 1:18-20).
Bagian 2. Doa dan nasihat yang diberikan kepada pria dan wanita.
Pasal II
1.      Doa syafaat bagi semua orang (1 Tit 2:1-4).
2.      Kristus adalah pengantara (1 Tit 2:5,6)
3.      Paulus adalah Rasul bagi orang-orang bukan Yahudi (1 Tit 2:7)
4.      Kewajiban pria dan wanita (1 Tit 2:8-15)
Bangian 3. Pengawasan rohani, syarat-syarat penilik dan diaken.
Pasal III
1.      Syarat-syarat seorang penilik:
1.Watak dan cara hidup pribadi (1 Tit 2:2,3)
2.Sikap terhadap keluarga (1 Tit3:4,5)
3.Pengalaman dan reputasi yang baik (1 Tit 3:6,7)
      2.   Syarat diaken
1.watak dan cara hidup pengalaman kekristenan ( 1 Tit 3:8,9)
2.Diuji dalam jangka waktu tertentu (1 Tit 3:8,9)
3.Terbukti setia kepada istrinya, mempunyai wibawa dalam rumah tangganya (1 Tit 3:11,12)
4.keuntungan menjabat sebagai diaken (1 Tit 3:13)
3.Tujuan surat ini ditulis (1 Tit 3:15)
4.Rahasia inkarnasi Kristus (1 Tit 3:16)
            Bagian ke IV. Pemberitahuan tentang apa yang akan terjadi dan nasihat-nasihat.
            Fasal IV.
1.Pemberitahuan akan adanya masa kemurtatan dimasa yang akan datang dan kelaziman doktrin ajaran setan yang akan merusak keluarga secara berlahan-lahan dan akan menimbulkan perpecahan (1 Tit 4:1-4)
2.Nasihat mengenai pengajaran, tingkah laku, teladan, dll.
            1.Tanda-tanda pelayan Kristus yang baik (1 Tit 4;6)
            2.Keunggulan kepercayaan kepada Tuhan (1 tit 4:7,8)
3.Pentingnya teladan yang saleh (1 Tit 4:12)
4.kewajiban untuk rajin membaca dan mengajar, dan latihan dari karunia pribadi  (1 Tit 4:13,14)
5.Pentingnya perenungan dan pengabdian secara total, ditambah dengan kewaspadaan dalam tingah laku pribadi supaya dapat membawa pengaruh yang baik (1 Tit 4:15,16)
Bagian V. Peraturan pelayanan
Pasal V.
1.Berlaku sopan terhadap orang tua maupun orang muda (1 Tit 5:1,2)
2.Sikap jemaat terhadap  janda-janda (1 Tit 5:3-16) Catatan:Bangian ini dengan pengetahuan tentang latar belakang zaman dan kondisi sosial waktu itu.
3.Kewajiban para penatua jemaat (1 Tit 5:17-20)
4.Kewajiban untuk bertindak adil (1 Tit 5:21-22)
5.Nasihat mengenai masalah pribadi (1 Tit 5:23-25)
Pasal VI
6.Kewajiban para hamba (1 Tit 6:1,2)
7.Kewajiban untuk memisahkan diri dari guru-guru yang suka bertengkar/berdebat (1 Tit 6:3-5)
8.Berkat dari kepuasaan (1 Tit 6:6-8)
9.bahayanya kekayaan, dan kewajiban pelayan Tuhan untuk menghindari ketamakan/iri hati (1 Tit 6:9-12)
10.Perintah sungguh-sungguh kepada pelayan yang masih muda ( Timotius) untuk memelihara Doktrin yang murni sampai datangnya raja segala raja (1 Tit 6:13-16)
11.Nasihat memperingatkan orang kaya supaya tidak tinngi hati (1 Tit 6:17-19)
12.perintah terakhir untuk kesetiaan dan menghindari ajaran palsu (1 Tit 6:20,21)

 


BAB III
KONSEP PENGAJARAN PAULUS TENTANG KETELADANAN DALAM I TIMOTIUS 4:12
A.Deskripsi Tentang Keteladanan
1.Arti Kata Keteladanan
            Keteladanan berasal dari kata teladan, persamaan kata teladan  adalah hikmah, patron, pertimbangan, ikutan, nasihat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:“Keteladanan adalah hal yang dapat ditiru atau dicontoh, tidak perlu diragukan lagi”.[14]
Keteladanan dalam bahasa metafora adalah sebagai bentuk personal impact, diibaratkan “terang”.Terang harus bercahaya didalam kegelapan, terkadang bisa menelanjangi yang disembunyikan, yang ditutup-tutupi. Keteladanan adalah cara untuk mendapatkan wibawa, bagi seorang pemimpin kewibawaan adalah hal yang sangat penting, karena tanpa kewibawaan seorang pemimpin tidak akan mampu menggerakkan anak buahnya. Kewibawaan seorang pemimpin rohani bukan terletak pada hal-hal yang lahiriah seperti kekayaan, usia, kepintaran, melainkan dalam keteladanan hidup.Bila mana orang percaya melihat dalam diri pemimpin itu mencerminkan Kristus maka dengan sendirinya mereka akan menghormatinya.
Keteladanan adalah pengaruh yang ideal, menjabarkan tingkah laku dan pengaruh yang dapat mengembangkan kepercayaan pengikutnya, para pengikunya bersimpati kepada sang pemimpin dan ingin menirunya dan menyanjungnya karena dipandang memiliki keberanian, kemampuan dan keteguhan  pendirian yang luar biasa. Keteladanan adalah praktek pertama kepemimpinan yang berhasil, karena memandang begitu pentingnya keteladanan sehingga konsep kepemimpinan di kembangkan sebangai keteladanan kepemimpinan.
Kepemimpinan adalah sebuah integritas hidup, artinya seorang pemimpin harus sama dengan perkataannya, bukan hanya sekedar pameran dari apa yang dilihat orang lain dari luarnya, pemimpin yang baik tetap menjaga integritasnya walaupun tidak ada orang yang melihatnnya. Sebagai contoh,  pada malam hari ia melewati lampu merah yang sepi, tidak satu orang pun disana, seandainya ia menerobos lampu merah tidak satu orang pun yang tahu. Namun seorang pemimpin yang berintegritas, tidak akan melakukan hal ini sekalipun tidak ada seorang pun yang tahu.
Seorang pemimpin didefenisikan sebagai orang yang dipandang:
-Menunjukkan ciri-ciri kepemimpinan.
-Memiliki kepercayaan, nilai, atau sikap yang atau orang tanggap terhadapnya secara positif.
-Mengerjakan hal-hal yang orang kagumi dan akan meneladaninya seandainya mereka bisa.
Seorang pemimpin yang baik adalah kepemimpinan yang terhadapnya kebanyakan orang tampaknya memberikan respon. Ken Blanchard dalam bukunya Hati Seorang Pemimpin menyatakan bahwa:
“Segala hal yang tidak layak dikerjakan, tidak layak dikerjakan dengan baik”Blancharrd sadar bahwa tidak masuk akallah bagi orang untuk efisien dalam mengerjakan apa yang seharusnya mereka tidak kerjakan sedari awalnya. Evaluasilah setiap harinya dengan menanyakan, “sudahkah aku mengerjakan yang bener-benar penting hari ini”.[15]
Pemimpin yang baik  membantu orang-orangnya meraih kemenangan.Jika ada yang gagal pemimpinlah yang menerima tanggung jawab atas kegagalan itu.  Tugas utama pemimpin adalah membantu orang-orangnya sukses dalam mencapai sasaran-sasaran mereka. Dan jika orang mencapai sasaran-sasarannya dan menang, maka semua orang akan menang.
            Pemimpin memiliki daya tarik,  Pemimpin-pemimpin yang sangat kharismatik menarik banyak orang, namun pemimpin-pemimpin yang paling sederhana sekalipun banyak pengikutnya. Kalau tidak, mereka bukan pemimpin. Daya tarik seorang pemimpin bisa mempengaruhi orang lain secara intlektual, emosional, ataupun kemauan. Tidak semua pemimpin mempengaruhi orang lain dengan hal yang sama, atau menggunakan hal yang sama dalam mempengaruhi orang lain. Pemimpin-pemimpin terbesar mempengaruhi pikiran, hati, serta kemauan para pengikutnya. Daya tarik seorang pemimpin dapat dikembangkan, dan dijadikan matang. Seperti kwalitas baik lainnya yang terdapat dalam diri pemimpin, daya tarik dapat dikembangkan. Kemampuan memaparkan visi serta menarik simpati orang dapat ditingkatkan.
            Pemimpin bukan hanya menyangkut sesuatu yang anda perbuat, melainkan sesuatu menyangkut siapa anda.Itulah alasannya mengapa pemimpin yang baik memiliki daya tarik yang baik. Orang-orang tertarik kepada siapa mereka sesungguhnya, pemimpin yang efektif  berasal dari siapa pemimpinnya, dari sanalah segalanya dimulai. Kebanyakan orang memfokuskan diri pada sasaran-sasaranya, mencurahkan waktu dan tenaga untuk mencapai sasaran-sasarannya.  pemimpin menginginkan hasil, namun perbuatan haruslah didahului dengan sikap. Seorang pemimpin yang baik mungkin mengutus orangnya ke dalam pertempuran, namun seorang pemimpin besar memimpin sendiri dan orang menghormatinya karena turut serta dalam upaya tersebut.Untuk menjadi pemimpin yang dapat di percaya, harus dapat mencocokkan kehidupan dengan pesan yang disampaikan.Kalau karakter tidak konsisten dengan komunikasi, jelaslah bahwa hal itu bukan pemimpin yang baik. Untuk mencapai sasaran-sasaran yang lebih tinggi, maka harus menjadi pemimpin yang efektif. Untuk menarik orang-orang yang lebih baik, harus menjadi orang yang lebih baik. Untuk mencapai hasil-hasil yang lebih besar, harus menjadi orang yang berkarakter baik.
            Seorang pemimpin yang memperlihatkan konsistensi karakter, kompetensi, dan tekad membuat pernyataan yang kuat terhadap orang-orang yang ada disekelilingnya, maka orang-orang akan tertarik kepadanya. Siapa dia sesungguhnya, apa yang ia perbuat, dan hasil-hasil yang dicapainya sesungguhnya, apa yang ia perbuat, dan hasil-hasil yang dicapainya, semuanya klop, maka konsistensi itu menarik orang banyak kepadanya seperti magnit.
            Pemimpin adalah pemimpi. Pemimpin harus banyak bermimpi, karena melalui bermimpi mereka dapat membawa organisasinya, keluarganya, atau kumpulannya menuju suatu yang lebih baik. Dalam buku Pemimpin Adalah Pemimpi Carl Sandburg menyatakan bahwa:”Tidak akan terjadi apa pun kecuali didahului oleh sebuah impian”[16]
Impian adalah suati visi, gambaran cetak biru masa depan, yang nantinya nanti akan menjadi kenyataan.Ternyata defenisi kepemimpinan sangat luas, sebab kepemimpinan itu juga jabatan kompleks, penulis mencantumkan defenisi kepemimpinan dari para tokoh-tokoh kepemimpinan:
Max De Pree   :Liberating people to do what is required of them in the   most affective and humane way possible.
James c.           :Leadership is the abilityto obtain followers.
Jhon W .G       :Leadership is the process of persuasion or example by whice a individual (or leadership team) induces a group to pursue objective heald by leader or shared by the leader and his or her followers.
Carl E.Larson  :Effective leader give team members the self confidence to act, to make charge of their responsibilities, and make change occur rather than merely perform assigned tasks.In short leaders create leaders.
Stephen C       :Leadership is your choice –your action not your position.
Mempunyai koleksi defenisi kepemimpinan saja tidak penting.Yang lebih penting adalah bagaimana mengimplemetasikannya dalam diri kita.Bangaimana kita membawa dunia, lingkungan, keluarga di sekeliling kita kepada suatu perubahan, perubahan yang memiliki arah, harapan atau hidup yang lebih baik.   
Pemimpin dalam konsepsi Alkitab, bukan berarti seseorang disebut pemimpin rohani (Kristen) karena ia seorang Kristen atau melibatkan diri dalam pelayanan Kristen. Pemimpin Kristen berarti pemimpin yang mengenal Allah secara pribadi dalam Kristus dan memimpin secara kristiani.Pemimpin Kristen adalah pribadi yang memiliki perpaduan antara sifat-sifat alamiah dan sifat-sifat spiritualitas Kristen. Sifat-sifat alamiahnya mencapai efektivitas yang benar dan tertinggi karena dipakai untuk melayani dan memuliakan Allah.Sedangkan sifat-sifat spiritualitas kristianinya menyebabkan ia sanggup mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya untuk menaati dan memuliakan Allah. Sebab daya pengaruhnya bukan dari kepribadian dan ketrampilan dirinya sendiri, tetapi dari kepribadian yang diperbaharui Roh Kudus dan karunia yang dianugrahkan Roh Kudus.
Pemimpin Kristen berbeda dengan pemimpin alamiah (sekuler/umum) dalam beberapa hal.Pemimpin rohani mengenal Allah, mencari kehendak Allah, menaati kehendak Allah, bergantung pada Allah, mengasihi Allah dan manusia, dan akhirnya memuliakan Allah. Sedangkan pemimpin alamiah hanya mengenal manusia, membuat keputusan sendiri atau organisasi, berusaha mencapai sasaran pribadi atau organisasi, bersandar pada cara-cara sendiri, bergantung pada kuasa dan ketrampilan diri sendiri, mengutamakan hasil kerja dan cenderung mengabaikan manusia.
Ada beragam definisi mengenai kepemimpinan rohani atau Kristen yaitu:
“Kepemimpinan adalah pengaruh.” (Oswald J. Sanders)
“Tugas utama pemimpin adalah mempengaruhi umat Allah untuk melaksanakan rencana Allah.” (Robert Clinton)
“Seorang pemimpin Kristen yaitu seorang yang dipanggil oleh Allah untuk memimpin; dia memimpin dengan dan melalui karakter seperti Kristus; dan menunjukkan kemampuan fungsional yang memungkinkan kepemimpinan efektif terjadi.” (George Barna)
“Kepemimpinan rohani adalah menggerakkan orang-orang berdasarkan agenda Allah.” (Henry & Richard Blackaby)[17]
Dari beberapa definisi di atas terlihat bahwa kepemimpinan rohani memiliki persamaan dengan kepemimpinan umum dalam hal mempengaruhi atau menggerakkan orang lain, mensyaratkan kemampuan fungsional dan membimbing kepada tujuan tertentu. Sedangkan perbedaannya, kepemimpinan rohani berdasarkan panggilan Allah, bukan dari manusia atau organisasi; melaksanakan tugas dalam lingkup agenda/rencana Allah, dengan berdasarkan karakter Kristus, dan menuntun kepada tujuan yang Allah kehendaki, bukan tujuan organisasi atau manusiawi.
       Seorang teladan artinya sosok yang patut ditiru atau dijadikan panutan oleh orang lain, menjadi role model. Dunia akan selalu butuh dan haus akan keteladanan untuk dijadikan pelalajaran berharga agar lebih baik lagi kedepannya. Paulus mengingatkan mengenai pentingnya keteladanan dalam pelayanan seperti yang disampaikan kepada Timotius.”Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang percaya, dalam perkataan mu, dalam tingkah laku mu, dalam kasih mu, dalam kesetiaan mu dan dalam kesucian mu”( 2 Tim 4:12) .Terlihat jelas bahwa sesungguhnya masalah menjadi teladan tidak  hanya urusan orang tua atau dewasa saja, tapi harus sudah diaplikasikan di usia muda. Menjadi teladan bukanlah hal yang mudah tapi wajib untuk dilaksanakan.


2.Analisa Keteladanan
Pilihan Paulus tidak salah, karena Timotius menunjukkan bekerja dengan bersungguh-sungguh. Ia menunjukkan pengabdian yang tulus untuk menerima setiap tugas dalam bentuk apapun yang diberikan kepadanya. Ia tidak pernah membantah kepercayaan yang diberikan kepadanya. Semuanya itu diterimanya dengan baik dan bertanggung jawab.
Dia sering mendapat tugas khusus dari Paulus untuk ke beberapa tempat untuk mengatasi persoalan di dalam jemaat.Timotius pernah diutus untuk pergi ke kota Berea, Makedonia, Korintus, Filipi dan Tesalonika. Ternyata pelayanan Timotius tidak selamanya berjalan mulus.Di dalam pelayanannya, dia mendapatkan dua hambatanYaitu:
Hambatan  pertama, Timotius adalah rasul muda yang tengah menghadapi persoalan di tengah jemaatnya. Mereka adalah bagian dari jemaat yang dilayaninya, yang kemudian murtad dan mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan (1 Tim 4:1). Dua di antara berasal dari luar dirinya yaitu berupa ajaran sesat. Mereka adalah bagian dari jemaat yang dilayaninya, yang kemudian murtad dan mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan (1 Tim 4:1). Dua di antara penyesat itu bernama Himeneus dan Filetus (2 Tim 2:17). Mereka bukan orang yang sembarangan.Kemampuannya mengolah kata membuat Timotius mendapat nasihat untuk menghindari perdebatan yang dianggap kosong itu(2Tim2:16). Ajaran ini mengajarkan tentang keutamaan tubuh. Tubuh harus dijaga dengan baik misalnya dengan olahraga, berpantang makanan tertentu, bahkan kalau perlu tidak menikah (ayat 3). Jika dapat melakukan semua ini, maka orang tesebut dipandang lebih saleh atau lebih rohani dibandingkan orang yang lain. Paulus menantang ajaran seperti ini.
Hambatan kedua, berasal dari dalam dirinya, yaitu dari usianya yang masih muda. Pada saat memulai pelayanan, Timotius masih berusia 15 tahun.Pada saat menerima surat yang pertama ini (1 Timotius), Timotius berusia 33 tahun. Menurut tradisi Yahudi, seseorang dapat dianggap dewasa pada usia 30 tahun. Namun bagi seorang guru atau pemimpin jemaat, umur sekian ini masih dianggap terlalu muda.
Pada usia semuda ini, Timotius harus memimpin dan mengajar orang-orang yang lebih tua daripadanya. Hal ini membuat jemaat dan orang lain memandang rendah Timotius. Saat itu jemaat mempersoalkan kewibawaan Timotius sebagai pemimpin mereka. Menghadapi situasi seperti ini, apa yang harus dilakukan Timotius? Bagaimana dia dapat meningkatkan wibawanya di depan jemaatnya? Bagi seseorang, kewibawaan adalah sesuatu yang sangat penting. Tanpa kewibawaan, seorang pemimpin tidak akan mampu mengerakkan anak buahnya. Seorang muda tidak ingin disebut muda. Sebab itu adalah kata-kata ejekan yang menunjukkan ketidak matangan dan kurang pengetahuan. Ada beberapa pendapat kata ini yang digunakan lawan Timotius untuk menjatuhkannya. Justru karena itu nasihat yang diperdengarkan kepada Timotius adalah jangan menjadi minder dengan ejekan itu. Justru lawanlah dengan sikap-sikap yang mampu diteladani
“Jadilah teladan” Ini merupakan salah satu syarat yang paling penting untuk seorang pemimpin gereja. Kata Yunani yang diterjemahkan "teladan" adalah tupos yang berarti "model", "gambar", "ideal" atau "pola". Tupos adalah tindakan atau sikap yang mampu mempengaruhi orang lain, orang akan kagum dan berhenti memperolok-oloknya.  Seorang gembala sidang, terutama, harus menjadi contoh dalam kesetiaan, kekudusan, dan ketekunan dalam kesalehan. Jabatan penilik hanya boleh diisi oleh mereka yang dari halnya gereja dapat mengatakan, "Orang ini telah menjalankan hidup saleh yang layak dicontoh".
Lewat keteladanan ini akan nampak, bahwa kewibawaan seseorang tidaklah terletak pada usia, kekayaan, kepandaian (yang mungkin dimiliki lawan Timotius), dan sebagainya. Tetapi justru pada keteladanan hidup yang dilakoninya. Pelayanan yang efektif adalah pelayanan yang disertai dengan kehidupan yang efektif dalam menerapkan nilai-nilai yang dianut serta ditularkan oleh sang pelayan kepada mereka yang dilayaninya.  Di atas telah kita pelajari bahwa “Tujuan Tuhan memberikan tugas kepada hambaNya adalah untuk membimbing jiwa-jiwa bertemu kepada Tuhan serta mengalami Tuhan dalam kesehariannya di muka bumi ini.”
Tugas tersebut erat hubungannya dengan kepemimpinan yang menerapkan nilai-nilai keteladanan. Kepemimpinan seperti inilah yang akan menghasilkan dampak pergeseran penilaian dan keinginan yang kuat kepada orang-orang di sekitarnya untuk ikut menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Sebagai pembandingan, penulis mencantumkan 1 Timotius 4:12 dalam beberapa versi terjemahan Alkitab:
ITB      : Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda, jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan mu, dalam tingkah laku mu, dalam kasih mu, dalam kesetiaan, dalam kesuciaan mu.
NIV     : Don't let anyone look down on you because you are young, but set an example for the believers in speech, in life, in love, in faith and in purity. Jangan biarkan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda Jadilah teladan bagi orang percaya, dalam perkataanmu, dalam hidup, cinta, dalam iman dan dalam kesucian.
ESV    : Let no one despise you for your youth, but set the believers an example in speech, in conduct, in love, in faith, in purity. Jangan ada yang membenci Anda untuk pemuda Anda, tetapi mengatur beriman contoh, dalam perkataanmu, dalam laku, dalam kasih, dalam iman, dalam kemurnian.
NASB : Let no one look down on your youthfulness, but rather in speech, conduct, love, faith and purity, show yourself an example of those who believe. Janganlah memandang rendah kemudaan Anda, melainkan dalam berbicara, perilaku, iman kasih dan kemurnian, menunjukkan diri contoh mereka yang percaya.
NKJV  : Let no man despise thy youth; but be thou an example of the believers, in word, in conversation, in charity, in spirit, in faith, in purity. Janganlah ada orang yang membenci masa mudamu, tetapi menjadi teladan bagi orang percaya, dalam kata, dalam percakapan, dalam amal, dalam roh, dalam iman, dalam kemurnian.
ERVI  : Let no man despise thy youth; but be thou an ensample to them that believe, in word, in manner of life, in love, in faith, in purity. Janganlah ada orang yang membenci masa mudamu, tetapi jadilah engkau seorang ensample untuk orang yang beriman, dengan kata, dengan cara hidup, cinta, dalam iman, dalam kemurnian.
Penulis ingin mencantumkan bagaimana caranya kita menjadi teladan?
Pertama adalah meninggalkan hidup dosa
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
(Ibr 12:1)
Hidup kita bagaikan awan yang mengelilingi kita, ada banyak mata melihat dan memperhatikan bagaimana kita hidup sebagai murid Kristus. Saat kita mengaku Kristen dan mengenal hukum-hukum Allah tetapi hidup sebagai seteru salib, tentu orang-orang yang ada disekitar kita akan melihat dan mereka akan menghinakan Allah karena perbuatan kita (Rm 2:21-24).
Menyadari bahwa mau tidak mau kita adalah teladan bagi sekeliling kita adalah permulaan hidup menjadi teladan. Penghalang pertama adalah beban dan dosa yang membuat kita tidak dapat menunjukan pribadi Kristus pada dunia, khususnya pada orang-orang disekitar kita. Tinggalkan beban dan dosa, mari kita memulai hidup kudus didalam Kristus dan menjadikan diri kita teladan bagi dunia.
Kedua adalah buang ragi kemunafikan
Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.(Luk 12:1)
Ragi itu mengkamirkan adonan kata 1 Kor 5:6, sedikit saja telah membuat seluruh hidup ini menjadi rusak. Yesus memperingati agar kita jangan munafik seperti orang Farisi.Didalam komunitas orang beriman, kita dituntut untuk hidup kudus dan bertumbuh dalam kerohaniaan. Jika didalam dunia status sosial seseorang dinyatakan dari kekayaan, gelar dan kedudukannya, maka didalam komunitas orang beriman adalah kekudusan, pertumbuhan rohani dan pengertiannya. Karena tuntutan status kerohanian inilah juga yang membuat orang beriman dapat menjadi munafik (kemunafikan orang Farisi). Sedikit saja kita telah berpura-pura kuat, kudus dan tanpa cacat cela, maka seluruh hidup kita menjadi rusak (khamir) oleh kemunafikan tesebut.
Ketiga adalah hidup didalam integritas
He who walks with integrity walks securely, But he who perverts his ways will become known. (Ams 10:9 NKJV)
The man of integrity walks securely, but he who takes crooked paths will be found out. (Ams 10:9 NIV)
Terjemahan ayat (NKJV) tersebut adalah, “Dia yang berjalan dengan integritas berjalan aman, Tapi dia yang penyimpang jalannya akan diketahui.” sedang dalam NIV disebut “…tapi dia yang mengambil jalan bengkok akan diketahui.”
Kata “integrity” dalam kamus memiliki arti ketulusan hati, kejujuran, keutuhan dan integritas. Kesemuannya memiliki pengertian yang sama yaitu sesuatu yang utuh, tidak ada kepalsuan baik dari luar maupun dalam tanpa ada yang disembunyikan menjadi sesuatu yang dapat dilihat secara lengkap dan penuh. Kata yang panjang itu disingkat dengan kata integritas.
Didalam Alkitab TB, kata tersebut dituliskan, “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” Kata Ibrani תם (baca: tom) yang artinya integrity diterjemahkan dengan bersih kelakuannya, tetapi jika kita melihat dari terjemahan lain maka kita tahu kata itu bukan sekedar bersih kelakuan saja tetapi tentang keutuhan pribadi. Bukan hanya bersih dari luarnya saja tetapi juga didalamnya.
Hidup didalam integritas adalah syarat yang harus ada agar hidup kita dapat menjadi teladan bagi sekitar kita. Kita siap untuk dituru dan diikuti secara utuh seluruh hidup kita, baik perkataan, tingkah laku, iman, pengharapan, kasih, kesetiaan, kesucian dan ketulusan hati kita.
Keempat adalah berpegang teguh pada pengajaran
Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.(Ibr 3:14)
Firman Tuhan yang telah kita dengar, kita baca dan kita percayai, haruslah kita pegang teguh sampai kepada akhir. Tidak mudah diombang ambingkan dengan segala macam hiruk-pikuk dunia ini (Ef 4:13-15). Pada saat pendirian kita teguh, maka kita melangkah, memutuskan dan bertindak juga dengan yakin dan tanpa keraguan. Karena itulah kita perlu berakar didalam Firman Tuhan, sehingga kita memiliki pondasi iman yang kuat.Menjadi taladan haruslah memiliki prinsip hidup yang kokoh. Memiliki panduan yang jelas bagaimana kita menjalankan hidup ini dan tidak mudah dihasut dan dipengaruhi oleh bujukan duniawi dan illah jaman ini.


Kelima adalah membiasakan melawan keinginan sendiri
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.(Mat 16:24).Didalam Luk 14:27, disebutkan kalau kita tidak melakukan hal itu maka kita tidak dapat menjadi murid Kristus, sebab seorang murid harus meneladani apa yang dilakukan oleh gurunya yang menjadi tutor dalam menjalani kehidupan sesuai kehendak Allah.Saat kita terbiasa menyalibkan daging ini, dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita maka gambaran Kristus terpancar dalam kehidupan kita dan orang-orang disekitar kita melihat dan meneladani apa yang kita ajarkan dan kita lakukan sebagai contoh hidup.
Keenam adalah rela berbagi hidup
Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.(1 Tes 2:8). Bukan hanya kita menyampaikan kabar baik, mengajarkan hukum-hukum Allah dan apa yang berkenan kepadaNya, tetapi juga kita memberi hidup kita bagi mereka. Proses pemuridan terjadi jika kita berani membagi hidup kita kepada orang-orang yang ada disekitar kita. Mengorbankan waktu-waktu kita bagi mereka dan memberikan apa yang ada pada kita bagi pertumbuhan kerohanian mereka. Bagian ini memang merupakan yang tersulit. Tidak mudah seorang membagikan hidupnya bagi orang lain. Tetapi sebagai murid Kristus dimana kita juga dituntut untuk memuridkan orang lain, didalamnya terdapat proses peneladanan dan untuk menjadi teladan tidak bisa tidak terlepas dari rela berbagi hidup dengan mereka.
Ketujuh adalah milikilah kasih yang terus disempurnakan
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.(1 Kor 13:3).Terakhir adalah kasih. Tanpa kasih kita dapat menjadi teladan, dapat berbagi hidup dan menampilkan sikap, perbuatan dan tindakan yang terpuji, mulia dan diperkenan banyak orang, tetapi tanpa kasih semua itu sia-sia. Kasih Allah yang harus mendasari semua perbuatan kita.Kasih akan timbul dan semakin kuat jika kita hidup didalam Roh, karena kasih merupakan bagian dari buah yang dihasilan oleh Roh Kudus (Gal 5:22-23) dan sebagai tanda bagi kita (1 Yoh 3:10). Semakin kita menjauhkan kedagingan dan mematikan keinginannya, serta hidup didalam pimpinan Roh Kudus maka kasih itu akan semakin tampak dan kita siap menjadi teladan dan meneladani orang-orang yang menjadi pendahulu kita.
Timotius masih muda, tapi usia tidaklah menjadi titik penentu. Menjadi teladan artinya tidak ada orang yang membenci, bertindak sebagai menteri injil dalam segala hal, sehingga orang akan menghargai.
3.Tokoh-Tokoh Teladan Dalam Alkitab
1.Yosua
Yosua dalam bahasa Ibrani sebenarnya adalah Hosea yang artinya "keselamatan" (Bil 13:8), tetapi Musa kemudian menambahkan nama ilahi dan menyebutnya "Yehosyua" (Bil 13:16) yang artinya "Tuhan adalah keselamatan" atau "semoga Tuhan menyelamatkan"; dalam bahasa Aram "Yesyu" (Yeshua); dalam bahasa Yunani "Iesous" (Yesus), dan dalam bahasa Indonesia menjadi "Yosua". Tidak ada informasi tentang mengapa Musa menambah nama ilahi dan menyebutnya demikian. Mungkin karena Musa melihat bahwa Yosua tokoh potensial yang akan memimpin Israel sebagai wujud dari "Tuhan adalah keselamatan". Walaupun alasannya tidak jelas, tetapi ada beberapa hal yang dapat dijadikan acuan sebagai indikasi bahwa Yosua berpotensi menggantikan Musa memimpin Israel memasuki Kanaan. Ayah Yosua adalah Nun dan kakeknya adalah Elisama yang merupakan kepala suku Efraim di padang gurun (Bilangan 1:10; I Tawa 7:27). Berarti, Yosua adalah keturunan Yusuf yang notabene mempunyai wibawa terbesar dalam sejarah Israel pada waktu itu karena Yusuf merupakan pemimpin besar di Mesir. Pada saat Israel keluar dari Mesir, tulang-tulang Yusuf sedang dibawa oleh orang Israel untuk dikuburkan di tanah Kanaan (Yos 24:32). Dengan kenyataan itu maka dapat dikatakan bahwa Yosua pada waktu itu menyandang kharisma kepemimpinan dari kakeknya, terlebih dari Yusuf sendiri.
Yosua dilahirkan dan dibesarkan di Mesir, Yosua dipilih oleh Musa untuk menjadi pembantu pribadinya sejak usianya masih muda (Kel 33:11; Bilangan 11:28).  Yosua adalah seorang pemberani dan berjiwa pemimpin, hal itu ditunjukkannya dengan memimpin pasukan orang Israel dalam melawan orang Amalek (Kel 17:8-13) dan juga pada waktu diutus menjadi pengintai ke tanah Kanaan (Bil 13:8). Yosua adalah seorang yang setia dan sabar, hal itu ditunjukkannya ketika mendampingi Musa di Gunung Sinai (Kel 24:13) dan tugasnya sebagai pengurus kemah suci (Kel 33:11). Yosua adalah seorang yang taat dan beriman kepada Allah, hal itu ditunjukkan dengan tidak ikut memberikan laporan negatif bersama sepuluh pengintai lain yang menyebabkan orang Israel memberontak, tetapi justru berbicara kepada orang Israel untuk tidak memberontak kepada Tuhan dan tidak takut masuk ke negeri Kanaan (Bil 14:5-9). Yosua dilahirkan dan dibesarkan di Mesir, Yosua dipilih oleh Musa untuk menjadi pembantu pribadinya sejak usianya masih muda (Kel 33:11; Bilangan 11:28). Pada peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir, usianya kira-kira 30 tahun. Yosua selalu mendampingi Musa dalam aktivitas kepemimpinan Musa. Di sinilah nampaknya terjadi banyak pembentukan terhadap karakternya.
Yosua dan Kaleb berdiri di hadapan bangsa Israel dan berusaha dan berusaha memimpin mereka ke tanah perjanjian, mereka memiliki visi Allah bagi umatNya untuk memasuki tanah perjanjian. Ketaatan kepada Allah itu penting, karena Yosua dan kaleb taat sehingga mereka berdualah diantara populasi orang dewasa Yahudi yang masuk ke tanah perjanjian. Namun bagi pemimpin sejati ketaatan saja tidak cukup, kalau mereka tidak dapat mempengaruhi orang lain dalam perjalanan mereka, mereka gagal untuk melaksanakan misi yang diberikan Allah.
Yosua telah berusaha melakukan hal yang benar, ia telah berusaha memimpin bangsa israel ke arah yang harus mereka tuju.Yosua bukan saja benar, namun berusaha meneladani hidup benar.Hasilnya, ia secara konsisten hidup melampaui kemampuannya sebagai pemimpin.
2.Paulus
Nama aslinya adalah Saulus (nama yang diambil dari bahasa Ibrani), tetapi setelah bertobat mengambil nama dalam bahasa Yunani, yaitu Paulus. Saulus adalah seorang Yahudi dan ia sangat bangga dengan keyahudiannya itu. Ia berasal dari suku Benyamin dan ia juga memiliki kewarganegaraan Roma. Salah satu peranan utama dari seorang pemimpin adalah menunjukkan teladan yang baik dan kemudian melatih orang lain untuk mengikutinya. Paulus adalah seorang pemimpin besar dari gereja Tuhan di abad pertama. Dalam kitab 1 Korintus 11:1 ia menulis, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” Ia berhasil memultiplikasikan kepemimpinannya dengan mencetak pemimpin-pemimpin baru yang handal. Ia berhasil mendidik Timotius menjadi pemimpin dan gembala yang handal. Timotius pun kemudian menghasilkan pemimpin-pemimpin baru di dalam gereja yang digembalakannya. Paulus adalah sosok manusia biasa yang patut disebut sebagai pemimpin teladan.ia adalah seorang pahlawan pemimpin umat yang sejati dan jiwa kepemimpinannya akan terlihat jelas ketika ia di hadapkan pada situasi yang pelik. Kecakapannya sebagai seorang pemimpin tidak berkaitan sama sekali dengan gelar rasulnya. Ia bukanlah gubernur yang memerintah atas wilayah propinsi , ia tidak mengepalai pasukan,. Tuhan telah mengaruniainya jabatan rasul, satu-satunya jabatan yang di punyainya, yang tidak berdampak pada kewibawwan apa pun di luar lingkup gereja.Namun dalam Kisah Para Rasul 27, kita melihat paulus mengambil alih kepemimpinan duniawi yang bermusuhan, disaat orang lain terbukti gagal memimpin. Teladan keemimpinan Paulus terhadap kita adalah:
1.      Pencapaian
Paulus melihat bahwa misinya adalah untuk mengabarkan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang telah bangkit dari mati, dan mendirikan gereja-gereja berdasarkan doktrin ini. Para sejarawan sepakat bahwa ketika dia memulai pelayanannya pada sekitar pertengahan abad pertama, kekristenan adalah agama yang masih bayi dengan sedikit pengikut saja. Saat ini lebih dari 2 milyar orang adalah orang Kristen; ini berarti kurang lebih satu dari tiga orang adalah orang Kristen. Tentu saja ada banyak faktor yang menyebabkan kekristenan berkembang, tetapi kepemimpinan Pauluslah yang meletakkan dasar pertumbuhan kekristenan.
2.      Penggunaan Sumber Daya Secara Efektif
Paulus hampir tidak memunyai sumber daya apa-apa. Dia bahkan sering kali bergantung pada kebaikan orang lain untuk mendapatkan tempat tinggal dan makanan. Hal ini tidak berarti bahwa asisten-asistennya Barnabas, Silas, Timotius, dll. -- bukan merupakan sumber daya yang berharga. Akan tetapi, dibandingkan dengan pencapaiannya yang hebat, sumber daya yang dimiliki Paulus relatif sangat sedikit. Pencapaiannya yang luar biasa dengan sumber daya yang sedikit menunjukkan kekuatan dari kepemimpinannya. Paulus membuat malu para pemimpin yang mengelola banyak sumber daya, tetapi hanya mampu mencapai perkembangan yang biasa-biasa saja.
3.      Perlindungan Nilai-Nilai Kelompok
Setelah penglihatan yang ia terima dalam perjalanannya ke Damaskus, Paulus menjadi seorang pendamai. Dalam hal ini, dia mencerminkan nilai-nilai ajaran Yesus dan ajaran Kristen. Paulus didera, dirajam, dan dipenjarakan, tetapi dia tetap setia dengan ajaran kekristenan mengenai damai. Dia berhasil menyebarkan firman kekristenan tanpa melakukak kompromi terhadap nilai-nilainya.
Paulus sama sekali tidak berniat mencari ketenaran, oleh karena itu dia tidak pernah mencari pembelaan diri.Paulus juga memiliki sikap pemberani ,dengan penuh keberanian ia berdiri di hadapan mahkama agama, orang banyak yang marah, gubernur, raja dan terutama guru palsu. Ia sama sekali bukan orang yang lemah atau pengecut.
Umat membutuhkan pemimpin yang dapat diteladani, dalam segala segi baik karakter, manajemen, pelayanan maupun mau bekerja keras untuk memimpin orang-orang. Kepemimpinan Kristen bukanlah mau memerintah, akan tetapi menjadi teladan hidup. Pemimpin sukses adalah orang yang mampu mencetak pemimpin baru, dan bukannya iri atau takut tersaingi bila bawahannya sukses. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memperhatikan bawahannya. Mencukupi kebutuhan hidupnya agar mereka dapat berkonsentrasi melakukan tugas pelayanan yang dibebankan tanpa harus dipusingkan akan persoalan makan, minum, pakai. Pantang menyerah, inovatif dan terus mengembangkan diri merupakan kualitas yang harus diperhatikan juga. Dengan demikian, akan membuat pelayanan pemimpin itu semakin efektif dan berhasil mencapai visi yang ingin diraihnya.
3.Timotius
Timotius (Yunani, τιμοθεος - TIMOTHEOS, dari kata τιμη - TIMÊ, menghormati, dan θεος – THEOS, Allah; jadi τιμοθεος - TIMOTHEOS, menghormati Allah). Ibu: Eunike, disebut pertama : Kis 16:1, namanya disebut : 24 X, kitab yang menyebut : Kisah Para Rasul, Roma, I Korintus, 2 Korintus, Filipi, Kolose, I Tesalonika, 2 Tesalonika, I Timotius, 2 Timotius, Filemon dan Ibrani. Pekerjaan : Penginjil dan gembala, tempat kelahiran : Listra, Ibrani 13:23
Fakta penting : Paulus mengalamatkan dua Surat Perjanjian Baru kepadanya.
Timotius adalah anak yang lahir dari perkawinan campuran: ibunya wanita Yahudi, jelas mengajar dia mengenai Kitab Suci, bapaknya seorang Yunani (Kisah 16:1; 2 Tim 1:5). Kampung halamannya Listra (Kisah 16:1) dan dia sangat dihormati oleh saudara-saudaranya orang Kristen baik di sana maupun di Ikonium (Kisah 16:2). Kapan dia menjadi Kristen tidak diberitakan secara khusus. Tapi suatu kesimpulan yg dapat diterima ialah, bahwa dia bertobat waktu Paulus dalam safari pertama penginjilannya mengunjungi Listra, dan bahwa ia menyaksikan penderitaan Paulus pada peristiwa itu (2 Timotius 3:11). Menjelang perjalanan safari kedua Paulus melalui daerah itu, ibu Timotius sudah menjadi Kristen juga.
1. Pribadi Timotius.
a. Dia dari Listra dan mungkin ia diselamatkan dalam misi Paulus yang pertama            Kis 14:19-20; 16:1-2
b. Ibunya, Eunike, dan neneknya, Lois adalah perempuan-perempuan Yahudi yang saleh, Tetapi ayahnya adalah orang Gerika yang menyembah berhala. Kis 16:1-2; 2 Tim 1:5
c. Dia mengenal Firman Allah. 2 Tim 3:14-15
d. Dia besar imannya. 2 Tim 1:5
e. Paulus menghargainya sebagai anak sendiri dalam iman. 1 Tim 1:2; 2 Tim 1:2
f. Ia seorang pribadi yang hati-hati. l Tim 4:12,14-16
g. Di dalam keadaannya, dia adalah manusia Allah. 1 Tim 6:11
Timotius yang mempunyai kepribadian positif. Kepribadiannya tersebut merupakan hasil latihan kedisiplinan yang dilakukan Paulus. Paulus telah banyak memberinya kesempatan juga petunjuk, mengajar dan mendidiknya, selagi Timotius masih muda. Timotius selalu diingatkan untuk tetap berpegang pada kebenaran yang telah ia terima dan yakini.  Khusus kepada Timotius, rasul Paulus memberi perhatian dan asuhan rohani. Sebab ciri yang menonjol dari kepribadian Timotius adalah dia tidak memikirkan kepentingannya sendiri dan selalu berupaya sehati-sepikir dengan para rekan sepelayanannya. Karena itu Timotius selalu memikirkan sungguh-sungguh jemaat yang dilayaninya. Timotius juga memperlihatkan sikap yang setia, dan kesetiaannya teruji. Di Fil. 2:22 rasul Paulus berkata: “Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya”. Selain itu Timotius memperlihatkan sikapnya yang berbudi luhur di mana dia menolong rasul Paulus dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya. Tidak mengherankan jikalau rasul Paulus memberi kepercayaan yang begitu besar kepada Timotius. Untuk menangani persoalan-persoalan jemaat di Filipi, rasul Paulus meminta Timotius datang melawat mereka. Dalam hal ini rasul Paulus sebagai bapa rohani telah mendelegasikan tugas dan mengkader Timotius selaku pelayan Kristus. Kepemimpinan iman Kristen didasarkan kepada kepercayaan akan integritas, kematangan iman dan karunia-karunia rohani. Untuk itu setiap kader harus dibina dan diuji dalam situasi konkret, sehingga mereka dapat melatih dan mengembangkan seluruh anugerah rohani secara matang.
Timotius bertugas mewakili Paulus membina gereja di kota Tessalonika, Filipi dan Korintus. Dengan tugas-tugas itu Timotius dipersiapkan menjadi penerus pekerjaan Paulus. Sesudah dibina sekitar sepuluh tahun, Timotius dipercaya untuk menggembalakan umat di kota Efesus. Sementara itu Paulus tinggal di Makedonia, namun kemudian dipenjara lagi di Roma. Pada masa itulah Timotius menerima dua pucuk surat dari Paulus yaitu, 1 timotius dan 2 timotius. Akhir hidup Timotius memang mengenaskan. Ia dibunuh dalam kerusuhan agama pada tanggal 22 Januari tahun 97 di depan kuil Artemis di kota Efesus. Tetapi, hidupnya jauh dari sia-sia. Ia merintis pekabaran Injil yang menjadi cikal bakal gereja hingga masa sekarang. Ia melindungi umat yang dianiaya di Tessalonika. Ia mendampingi umat yang tergoncang iman di Korintus. Timotius anak keluarga sederhana yang dibesarkan di kota Listra telah menjadi pemimpin dan pemikir gereja perdana.
B.Konsep Keteladanan
1. Dalam Perkataan
Paulus menghendaki Timotius dapat menjadi teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataan. Perkataan dalam bahasa Yunani “Logos” yang memiliki makna yaitu:perkataan, pembicaraan, pemberitaan, firman, khotbah,. Menyatakan bahwa kita selalu berkata-kata jujur dan penuh kasih. Menjadi teladan dalam perkataan kita harus berkata jujur, mengucapkan kata-kata yang membangun, dapat memberi semangat atau dorongan kepada orang lain.
            2.Dalam Tingkah laku
            Tingkah laku dalam bahasa yunani “Anastrophe” yang memiliki makna yakni: cara hidup, prilaku, sikap. Mengandung arti bahwa kehidupan kita harus di kendalikan oleh firman Allah, dalam tingkah laku harus sabar, bertanggung jawab  dan berintegritas.
           

3.Dalam Kasih
            Kasih dalam yunani “Agape”artinya: Kasih yang sejati, kasih illahi, kasih tanpa syarat, kasih yang rela berkorban, kasih yang tidak akan di goyahkan oleh karena situasi- kondisi yang bangaimana pun buruknya. Menunjuk kepada motivasi kehidupan kita dan hanya Tuhan yang dapat memampukan kita mengasihi dengan kasih “Agape”. Dalam kasih (Agape) kita mampu mendoakan musuh-musuh kita dan mampu memberkati orang yang membenci kita.
            4.Dalam Kesetiaan
            Kesetiaan dalam bahasa Yunani”Pistis” kepercayaan, iman, kesetiaan. Menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah dan setia kepadaNya. Dalam bahasa aslinya kata “iman” dan “kesetiaan” memiliki akar kata yang sama (pistis). Inggris: Faithfull = Penuh Iman = Setia. Bhs Grika: Phistos = Setia. Phitis = Iman, Setia. Jadi iman tidak terlepas dari setia. Orang yang tidak setia, menurut Ul 32:20 adalah suatu angkatan yang bengkok. Tuhan akan menyembunyikan wajah-Nya dari angkatan yang bengkok ini. Bagi yang tetap setia, Tuhan akan menjagai dengan damai sejahtera (Yes 26:2-3).
Iman memang selalu membawa kepada kesetiaan. Kesetiaan berarti selalu bertanggung jawab dalam pelayanan, dalam tugas yang dipercayakan.
            5.Dalam Kesucian
            Kesucian dalam bahasa Yunani “Hagneia” kemurnian hidup tanpa cacat cela, memelihara agar hati, pikiran tetap suci dan murni, menjauhkan diri dari hal-hal yang negatif.
C.Prinsip keteladanan
            1.Secara umum
            Keteladanan adalah sikap mendidik yang utama. Orang tua boleh menggunakan metode yang paling ampuh dan yang paling mutahir untuk mendidik anak, namun satu hal yang tidak dapat dilupakan orang tua harus dapat memberi teladan bagi anak. Mendidik tanpa memberi teladan sama halnya dengan bercerita kepada orang yang sedang  tidur pulas. Keteladanan mengandung sebuah konsekwensi bahwa apa yang di sampaikan tidak cukup hanya dengan kata-kata saja, kaia-kata perlu di topang dengan perbuatan nyata. Agar orang lain tidak hanya mendengar kata-kata kosong yang tidak berkolerasi dengan akar perbuatan yang kuat.
            Keteladanan adalah perintah tanpa kata-kata. Orang lain lebih senang mengikuti keteladanan daripada perintah, karena itu keteladanan adalah cara yang lebih efektif untuk mempengaruhi orang lain. Meskipun prinsip keteladanan sangat efektif namun penerapannya tidaklah sederhana. Harus memerlukan konsistensi dan integritas serta kejelian dalam menerapkan apa saja yang memberikan keteladanan bagi orang lain. Mengajar hanya 40% sedangkan mendidik 60%. Mendidik itu sebenarnya tidak terlalu sulit, yang penting memberikan contoh-contoh moral yang baik. Walaupun kita tanpa banyak berbicara, namun tingkah laku dan keteladanan kita sangat besar pengaruhnya terhadap anak didik. Keteladanan bisa bermunculan bila semua orang berobsesi dan terketuk hatinya untuk melakukan perubahan.
           
2.Secara Khusus
            Pemimpin muda Kristen tidak mungkin orang yang sempurna, namun ia dapat menjadi teladan bagi anggotanya. Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda.” Jadilah teladan bagi orang-oarang percaya, dalam perkataan mu, dalam tingkah laku mu, dalam kesetiaan mu dan dalam kesucian mu” ( 1 Tim 4:12). Menurut ayat di atas keteladanan itu dalam perkataan, tingkah laku (dalam arti luas), kasih, kesetiaan, kesucian (bukan hanya dalam hal seksualitas, tapi juga kesucian dan integritas hati, serta tingkah laku). Prinsip keteladanan ini sangat ditekankan Paulus (I Kor. II:1; Fil. 3:17). Ini merupakan prinsip pemuridan yang fundamen dalam kekristenan. Itu sebabnya pengajaran paulus tentang keteladanan masih relevan sampai masa kini.  Dapatkah seorang pemimpin gereja mengajar dan mempengaruhi anggota jika teladannya tidak bersesuaian dengan ajarannya? Tentu tidak dapat, Sehingga mengawasi diri tidak terlepas dari mengawasi ajaran (I Tim. 4:16).
D.Dampak Keteladanan
            1.Dalam pelayanan
            Yesus sudah memberi teladan bagi kita dalam pelayanan, keteladanan ini“bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa” (Mat. 20:28) “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Guru-mu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:14-15) Kita sering melupakan. Kita lebih senang dengan keteladanan Yesus sebagai Raja, sebagai Penguasa; mampu mengadakan mujizat, menyembuhkan yang sakit, mengajar dan memerintah. Kita senang meniru keteladanan ini, sebab sebagai raja atau anak raja, penguasa, sangat dihormati dan dihargai. Kita senang dihormat. Kita mendambakan penghargaan orang dan rindu untuk mempunyai kuasa seperti Yesus. Keteladanan Yesus sebagai Hamba yang menderita sering kita abaikan. Kita lebih suka mengikuti keteladanan yang hebat, yang spektakuler, yang megah.
Inilah keteladanan pelayanan yang harus ada pada diri setiap orang yang mengaku dirinya sebagai pelayan atau hamba Tuhan, atau yang mengaku “sedang melayani Tuhan”. Banyak orang yang mau “melayani” tetapi sedikit yang mau menjadi pelayan. Yesus tidak mengajarkan melayani sebagai penguasa, melainkan sebagai hamba. Karena itu benarkah seseorang itu terpanggil untuk melayani atau hanya ingin menyatakan ambisi pribadinya. Pelayanan sebagai pelayan adalah panggilan Allah. Jika pemimpin itu memberi teladan yang benar, umatnya akan berupaya untuk berbuat yang demikian, tetapi jika sebaliknya yang ditunjukkan, kehancuran kehidupan rohani umat tak kan terelakkan. Keberadaan seorang pemimpin dalam pekerjaan pelayanan amatlah dibutuhkan.
Swindol menganjurkan, “Pemimpin perlu memiliki dan meningkatkan dua hal penting yakni ‘kulit seperti badak, dan ‘hati yang benar.” Sebagai seorang pemimpin, tidak sedikit keritikan dan berbagai tudingan yang diarahkan kepadanya. Untuk itu, ia perlu memiliki kulit seperti badak. Sebagaimana badak yang memiliki kulit yang cukup tebal untuk tahan terhadap terpaan hujan dan badai serta sengatan terik matahari, demikian pula dengan pemimpin, ia harus tahan menghadapi badai keritikan, cemooh, umpatan, fitnahan, dll.”[18]
Betapa penting bagi seorang pemimpin Kristen menunjukkan teladan yang benar kepada umat gembalaannya.
When the King is good, the people will become good, when the Church leaders are good, the members will become good. (Bila sang raja baik, rakyat akan baik, bila para pemimpin gereja baik, jemaat akan menjadi baik). “Bila para pemimpin dalam perjalanan hidup sehari-hari mengakui kebenaran itu dan memperagakan teladan hidup dari kehidupan Kristus, maka terang akan bersinar dari mereka yang memimpin orang lain kepada Penebus.”[19]
Ogden mengingatkan “para pemimpin yang rohani dan benar untuk tidak memaksakan dan mengancam orang lain mengikuti apa yang mereka inginkan dan mintakan, tetapi memberikan teladan yang baik dan benar agar para pengikut mereka akan menurut dan melakukannya dengan senang hati.”[20] 
Pemimpin  itu harus menjaga hubungan yang baik yang ia jalin bersama orang lain yang ia pimpin. Agar hubungan tetap terbina dengan baik, ia harus menunjukkan pengaruh dan pelayanan yang benar. Panggilan kepada suatu tindakan artinya, bahwa pemimpin itu harus berbuat sesuatu untuk kemajuan pekerjaan yang dipercayakan Allah kepadanya. Para pemimpin seperti ini adalah pemimpin betul-betul pekerja untuk tanggunggjawab yang dipundakkan kepadanya.
2.Dalam Keluarga
              Keluarga sebagai tim yang terdiri dari suami, istri dan anak. Keteladan yang baik perlu ditunjukkan oleh guru atau warga sekolah lainnya, terlebih dari keluarga dalam hal ini adalah orang tua. Peran orang tua justru sangat vital dalam membentuk karakter seorang anak, karena keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak sebelum mereka bersosialisasi dengan dunia luar. Peran orang tua sebagai figur sentral dalam menerapkan pendidikan anak-anak, sungguh sangat vital. Mengutamakan motivasi, keteladanan, serta menularkannya secara simultan terus menerus adalah tiang penyangga penting dalam upaya mengajarkan nilai luhur hidup berkeluarga. Tindakan loyalitas dalam lembaga keluarga serta semangat saling menularkan merupakan nilai edukasi budi-pekerti, diharapkan memperkuat rancang bangun wadah keluarga yang bertanggungjawab. Semangat membaharui diri- keluarga selayaknya dijaga, serta mengupayakan langkah pemikiran yang berorientasi ke masa depan dan berkesinambungan.
Bagaimana kita menularkan keteladanan dalam hidup berkeluarga? Disiplin, salah satu kata kunci menuju eksistensi dan jiwa kebangkitan keluarga bahagia-sejahtra. Saling belajar dan melakukan transparansi seluruh masalah dan tantangan terutama tentang keuangan merupakan langkah positif dalam upaya penataan kelangsungan ekonomi keluarga secara terampil, agar selaras dengan penghasilan dan pengeluaran membutuhkan kedisiplinan dan pengendalian diri kolektif. Dalam kebersamaan, pengelolaan ekonomi keluarga paling efektif, adalah dilakukan antara Ayah-Ibu dan partisipasi Anak-anak. Adanya keterbukaan, mendorong anggota keluarga dapat melihat, dan menempatkan tingkat kepentingan bagi kebutuhan paling mendesak.
Kerja merupakan wujud tanggungjawab semua anggota keluarga. Anggota keluarga yang bekerja, memperoleh pendapatan yang digunakan untuk biaya hidup keluarga. Uang merupakan sub bagian, faktor penting bagi keutuhan keluarga dalam pemaknaan; uang adalah sarana komunikasi kasih dan sayang yang dialokasikan bersama sarana pendukung lainnya demi mendukung kredibilitas hidup berkeluarga.
Belajar mencari cara yang tepat untuk mencapai keluarga ideal sesuai yang diharapkan, semakin menyempurnakan tanggungjawab terciptanya penataan hidup berkeluarga. Artinya, yang bertanggungjawab adalah keluarga yang setia pada perjanjian semangat panggilan hidup berkeluarga; bertanggungjawab terhadap diri sendiri, pasangan, anak, sehingga secara bersama-sama mampu bangkit membangun keluarga dan lingkungan.keteladanan Model dan cara hidup orang tua adalah kunci utama bagi anak dalam proses membentuk karakter dan membangun kepribadian. Bagi anak, orang tua adalah sosok paling istimewa dan paling dominan dalam kehidupan mereka. Sebab, potensi meniru semua perilaku orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama orang tua, masih sangat dominan, bahkan hampir mencapai 100%. Begitu besarnya peran orang tua bagi anak, Zakiah Darajat menggambarkan orang tua sebagai pusat rohani, sehingga setiap reaksi emosi anak dan pemikirannya di kemudian hari selalu terpengaruh oleh sikapnya terhadap orang tuanya di permulaan hidupnya.
Karena pentingnya peran orang tua dalam kehidupan anak, maka keteladanan orang tua menjadi prinsip dasar dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak. Ketika berbuat baik dimulai dari orang tua, maka anak akan melihatnya sebagai role model dalam kehidupannya, sehingga jika contoh tersebut terekam kuat dalam memori mentalnya, maka peran teladan akan menjadi lebih berfungsi daripada seribu kata-kata. Anak memiliki kecenderungan untuk menyimpang dan lebih mudah belajar dengan contoh daripada dengan aturan . Teladan yang baik dari orang tua dan ditindaklanjuti dengan pembiasaan berbuat baik dalam diri anak akan melahirkan karakter dan cara hidup beragama yang baik pula, termasuk dalam menunaikan kewajiban agama. Jika hal itu terjadi, anak tidak perlu merasa dipaksa untuk beribadah, berkorban dan melakukan perbuatan baik yang lain hingga dirinya mencapai usia dewasa.
Masa keemasan atau golden age (0-5 tahun) ssesunnguhnya dijadikan fase awal bagi pembentukan karakter dan kepribadian anak. Dalam memainkan berbagai fungsinya, baik sebagai pengasuh, pendidik, pendamping atau apa pun namanya bagi anak, orang tua harus memahami betul tahapan-tahapan perkembangan anak sejak pre-natal. Sejak dini, orang tua bertanggung jawab untuk mengasuh anak tidak hanya secara fisik semata, namun juga dalam segi mental, emosional, dan spiritualnya. Karena itu, keteladanan menjadi sangat penting, agar anak mendapatkan hak asuhnya secara paripurna dari orang tua dalam keluarga. Keteladanan  harus mampu diterjemahkan secara konkret dan fleksibel dalam dunia anak yang suka bermain dan bergerak, bukan malah diterapkan secara kaku dan kukuh. Pembinaan ketaatan beribadah pada anak juga dimulai dari dalam keluarga.  Anak yang masih kecil, kegiatan ibadah yang lebih disenangi dan menarik baginya adalah yang mengandung gerak, karena pengertian agama belum dapat dipahaminya.  Anak-anak suka melakukan ibadah, meniru orang tuanya, kendatipun dia tidak mengerti apa yang ia lakukan. Kasih sayang dan perhatian keluarga, khususnya orang tua, akan meninggalkan bekas yang positif dalam perkembangan jiwa anak.  Untuk itu sudah sepantasnya orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak
Pada diri setiap anak terdapat suatu dorongan dan daya untuk meniru, dengan dorongan ini anak dapat melakukan sesuatu yang telah dilakukan orang tuanya.  Masa ini juga merupakan masa sensitif bagi anak, sebab apa yang dilihat dan didengarnya akan selalu ditiru tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya.  Dalam hal ini sangat diharapkan kewaspadaan serta perhatian yang besar dari orang tua, karena masa meniru ini secara tidak langsung turut membentuk watak anak di kemudian hari. “dalam praktek pendidikan dan pengajaran, metode keteladanan dilaksanakan dengan dua cara, yaitu secara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect).
Di samping itu, orang tua juga berperan sebagai Pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka, merupakan usnur-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak dalam masa pertumbuhan itu. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Charles Schaefer yang mengemukakan bahwa: “pengetahuan anak mengenai sikap yang benar dan diterima orang lain sebagian besar diperoleh dengan menyerap dan menirukan sikap orang tua.  Oleh karena itu, hal tersebut perlu disadari dan diperhatikan orang tua agar dapat memberikan teladan yang baik dan benar”[21]
Orang tua memang memegang peranan yang penting dalam hal mencukupi pendidikan agama pada anaknya, mereka dituntut untuk mengetahui tentang ilmu agama/ajaran-ajaran agama.  Selain itu, orang tua juga harus memberikan perhatian khusus terhadap anak, agar mereka mau melaksanakan ibadah dengan rasa ringan (tanpa beban) sekaligus menjiwai dan menerapkannya dalam berbagai bidang kehidupan.  Hal ini dapat dilakukan orang tua dengan jalan member contoh praktek-praktek ibadah kepada anaknya.  Praktek ibadah yang terlihat secara nyata di dalam lingkungan keluarga akan memberikan dampak yang positif bagi anak.
Lingkungan keluarga juga merupakan tempat/sarana pembinaan kepribadian anak yang mendasar dan memiliki waktu yang lebih luas daripada sekolah, sehingga apapun yang dibutuhkan telah diberikan sejak kecil oleh orang tua dan lingkungannya hingga dewasa nanti. Dengan demikian, faktor identifikasi dan meniru pada anak-anak amat penting, sehingga mereka menjadi terbina, terdidik dan belajar dari pengalaman langsung. Hal ini pula yang nantinya akan berpengaruh lebih besar daripada informasi atau pengajaran lewat instruksi dan petunjuk yang disampaikan dengan kata-kata. Dalam lingkungan keluarga, pendidikan yang berlangsung di dalamnya adalah pendidikan informal, dengan orang tua berperan sebagai pendidik. 
3.Dalam Pemuda Remaja
Salah satu penyebab banyak orang muda tergolong selalu terpengaruh adalah karena tekanan sosial atau teman membuat iman mereka lemah dan kebenaran mereka lumpuh. Pada umumnya, orang muda mau sama dengan temannya, dan tidak mau berbeda sebab takut ditolak atau dikucilkan. mencapai integritas dan kematangan diri atau kepribadian. Masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa, antara usia 11-20 tahun. Orang dewasa memiliki status sosial primer, yaitu diperoleh berdasarkan kemampuan dan usaha sendiri. Sedangkan kanak-kanak, statusnya diperoleh dari pemberian orang tua dan masyarakat. Sementara remaja, statusnya "interim" -- sementara atau peralihan. Sebagian diberikan orang tua dan masyarakat, sebagian lagi melalui usaha sendiri sehingga menimbulkan prestise. Banyak orang yang memandang kenakalan remaja sebagai sesuatu yang negatif. Sesuatu yang harus dianggap haram untuk dilakukan oleh remaja. Pada kenyataannya memang kita sering menjumpai kenakalan remaja yang amat merugikan. Seperti tawuran pelajar, mabuk-mabukan, free sex, penggunaan obat-obatan terlarang, terlibat dalam tindak kriminal dan sebagainya. Terhadap hal tersebut, tentu saja kita semua setuju jika remaja harus menghindarinya.
Di pihak lain, remaja ibarat di sebuah persimpangan jalan. Remaja bukanlah sosok pribadi dewasa yang sudah matang dan berpengalaman. Tetapi bukan pula sosok anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Justru dalam posisi tanggung seperti itu, maka remaja berada dalam posisi rawan. Mereka sedang mencari jati diri, dan ingin mencoba sesuatu yang masih baru dalam pengalaman mereka. Oleh sebab itu, dalam penanganan remaja dibutuhkan sikap bijak dari pihak orang tua maupun pembimbing remaja. Sikap menghakimi tentulah bukan sikap yang tepat dan baik. Yang paling penting adalah sikap mau mengerti dan memahami dinamika yang terjadi dalam dunia remaja, dan mau bersikap sebagai sahabat yang mampu memberikan masukan-masukan yang menjadi kebutuhan mereka. kenakalan remaja tidak bisa kita pandang sebagai satu sisi dari keburukan remaja saja, tapi kita perlu juga melihat sisi-sisi lain, sehingga kenakalan tidak semakin merusak kehidupan remaja, tetapi mau menjadi wadah kreatifitas remaja dalam mengembangkan diri menuju sosok dewasa yang lebih bertanggung jawabTugas utama remaja berdasarkan perkembangan usianya adalah :
Pertama,  melepaskan ketergantungan dari orang tua dan masyarakat untuk mencapai kebebasan dan kemandirian.
Kedua, mencari identitas diri atau identifikasi untukuntuk mencapai integritas dan kematangan diri atau kepribadian.
Dalam sosiologi dijelaskan, proses identifikasi (pembentukan kepribadian) sering diawali oleh adanya imitasi (meniru) dan atau sugesti (pengaruh),  identifikasi(pembentukan kepribadian) sangat memerlukan keteladanan.




















[1] Departemen pendidikan dan kebudayaan, kamus besar bahasa Indonesia cetakan ke tiga, (Jakarta: balai pustaka, 1994), hlm.520.

[2] Ibid.,  hlm. 327

[3] Ibid., hlm. 747

[4] Http //. www.ebsoft.web.id>11.00 am>091211

[5] Http//.www.ebsoft.web.id>11.30 am>091211
[6] Andreas.Marhain Sumarno, catatan metodologi, Akademi Theologia Alkitab salatiga 2011,
[7] Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid II, 2002, hlm.479.
[8] J.Wesley Brill, Tafsiran surat Timotius dan Titus, Yayasan Kalam Hidup, 1996, hlm.10.
[9]Ibid,hlm.114.
[10] J.Wesley,Op.Cit,hlm.9.
[11]Imotius Agus.Diktat surat Penggembalaan, thn 2005,ATHAS,hlm.4.
[12]Ibid.hlm.2.
[13] Http //. www.Goegle.web.id>14.18 am>201211


[14] http://www.artikata.com>19.11 pm>251211
[15]Ken Blanchard.Hati Seorang Pemimpin, tahun 2011, Hlm 18,19.
[16] Samuel H.Tirtamihardja.Pemimpin Adalah Pemimpi, tahun 2007,Hlm 2.
[17]Http//.www.Goegle.Web.id>17.07 am>140212
[18] Charles Swindol, dikutip oleh Roy B. Zuck, dalam The Speaker’s Quote Book. Grand Rapids: Kregel, 1997, hal. 225.

[19] White, Testimonies for the Church, Vol. 2, hal. 683, 684.

[20] Greg Ogden. Servant Leadership. Chapter in James D. Berkley. Leadership Handbook of Management and Administration. Manila: Christian Literature Crusade, 1994, hal. 151.

[21] Charles Schaefer, Bagaimana Mempengaruhi Anak, (Semarang: Dahara Prize, 1994), Cet. ke-5, h. 16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar